Apa yang membuat orang – orang kepingin menjadi seorang penguasa ? sebenarnya penulis terkadang merasa heran dengan orang – orang yang berebut tampuk kekuasaan ? Apa yang ingin mereka dapatkan? Bukankah menjadi ketua BEM atau yang lainnya hanyalah mendapatkan “rasa repot” yang luar biasa.
Pertanyaan selanjutnya ialah apakah setiap penguasa, setiap ketua punya jiwa kepemimpinan ?
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa (WS Rendra, Sajak Anak Muda)
tetapi hanya bisa berkuasa (WS Rendra, Sajak Anak Muda)
Spirit kepemimpinan pada dasarnya adalah semangat untuk memberi. Orientasi ketika kita menjadi seorang pemimin adalah siap untuk memberikan “sesuatu” kepada orang lain. Maka pemimpin yang hidup untuk orang lain, sudah sepantasnya menjadi orang besar. Bangsa Indonesia saat ini merindukan sosok pemimpin yang seperti itu. Sosok orang yang mampu berkorban demi rakyat. Realita yang ada ternyata sekarang banyak orang yang berebut kursi kepemimpinan hanya berorientasi untuk “mendapatkan”, bukan untuk “memberi”. Banyaknya koruptor menjadi indicator hal tersebut.
Kepemimpinan sesungguhnya bukanlah ditentukan oleh kedudukan maupun pangkat atau jabatan. Dimanapun ia berada seorang pemimpin senantiasa memberikan yang terbaik. Karena tidak ada kata “setengah-setengah” dalam kamus seorang pemimpin. Seorang pemimpin layaknya sebuah bunga, yang memberikan keindahan dan keharumannya pada dunia sekalipun setiap orang tidak memperhatikannya, karena kecermelangan seorang pemimpin tidak terletak dari seberapa populernya dia, tidak terletak dari seberapa banyak ucapan terima kasih yang ditujukan kepadanya. Tetapi seberapa besar ia mampu melupakan segala “pemberiannya” kepada orang lain. Itulah arti keikhlasan.
Happynes depend on what you give, not what you can get. Itulah spirit sejati kepemimpinan. Memberikan hal besar bagi orang lain, sehingga seorang pemimpin sangat dekat dengan kebahagiaan, kalaupun tidak di dunia, insya Allah di akhirat. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa salah satu orang yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak ialah pemimpin yang adil. Dan bukankah ketika kita memberi maka akan berbuah menjadi berlipat – lipat. Lantas kenapa kita hanya mau menjadi pemimpin yang berorientasi untuk “mendapatkan” saja ? Sayyid Quthb mengingatkan kita bahwa hiduplah untuk orang lain maka engkau akan hidup dan mati sebagai orang besar, hiduplah untuk dirimu sendiri maka engkau akan hidup dan mati sebagai orang kecil. Selamat menjadi Pemimpin !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar