Selasa, 10 Januari 2017

Antara Wanita Jaman Sekarang Dan Dapur

Karena beberapa waktu terakhir ini saya mainan di dapur terus *lagi getol-getolnya nyoba resep* walaupun saya nggak jago masak, tapi yang penting apa yang saya buat selalu ludes kalo udah ditaruh di meja makan. Jadi postingan kali ini berhubungan dengan dapur. Dan kebetulan juga, saya sedang sedikit berdebat dengan seorang teman yang nggak hobi ke dapur. Dulu sekali *lupa kapan tepatnya* neneknya ibu saya *itu buyut kan namanya* pernah berkata “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan berakhir di dapur juga”. Saya rasa ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan ucapan nenek buyut saya ini. Teman saya termasuk yang tidak setuju, alasannya karena terkesan mendiskriminasikan perempuan. Sedangkan saya? Saya 50-50 lah untuk soal ini, alasannya?
50% Tidak Setuju
Memang terdengar agak diskriminatif sih pernyataan nenek buyut saya itu *untung pernyataan itu tidak menjadi prinsip yang turun-menurun*. Karena, perempuan juga berhak mengenyam pendidikan yang sama tingginya dengan laki-laki. Perempuan juga boleh bekerja seperti halnya yang dilakukan laki-laki. Toh tidak dapat dipungkiri kalau saat ini bidang-bidang yang dulu hanya dikerjakan para pria telah banyak dilakoni para wanita. Ada banyak contohnya, seperti polisi, tentara, bahkan kuli bangunan. Selain itu, perempuan kelak akan menjadi seorang ibu dan itu artinya menjadi seorang guru pertama bagi anak-anaknya, bagaimana bisa menjadi guru dalam keluarga kalau seorang ibu tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan anak-anaknya. Dan untuk itu, seorang perempuan pun membutuhkan pendidikan yang baik. Jadi, saya tidak setuju dengan pernyataan nenek buyut saya itu bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi😉
50% Setuju
Tidak bisa dipungkiri perempuan akan menjadi seorang “ibu generasi” yang tidak hanya harus cerdas dalam pendidikan tapi juga harus bisa menjamin pemenuhan gizi keluarganya. Saat ini banyak sekali perempuan-perempuan yang tidak suka memasak, entah memang karena tidak suka atau karena malas, atau takut kotor jika masuk dapur. Walhasil memegang pisau pun tidak lulus atau memasak air masih gosong. Tugas utama perempuan nantinya adalah untuk keluarganya dan itu juga berarti harus mampu bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Ibu saya selalu bilang kalau “perempuan itu harus bisa bekerja di dapur, setinggi apapun tingkat pendidikannya maupun sesibuk apapun pekerjaannya di luar rumah, perempuan harus tetap menyempatkan diri masuk dapur dan menyiapkan makanan bagi keluarganya. Karena jika tidak, maka si suami bisa “jajan” di luar dan itu bisa jadi masalah runyam dalam keluarga”. Jadi ibu selalu berpesan kepada saya “kamu boleh lanjut sekolah S2, S3, bahkan sampe eS teler sekalipun asal bisa memasak nasi dengan benar (gak pake rice cooker), motong dengan benar, masak, dan menggoreng dengan benar” . Jadi, tentu saja saya setuju kalau perempuan itu harus mau dan bisa masuk dapur.
Jadi, para wanita-wanita atau perempuan-perempuan atau apapun sebutannya yang berada di luar sana, yang sibuk dengan pekerjaan dan karir,yang mengklaim diri tidak bisa memasak atau membuat kue, ayolah coba masuk dapur dan belajar. Memasak maupun membuat kue itu tidak sulit kok, hanya butuh kemauan untuk belajar dan tahu ilmunya. Lagipula bekerja di dapur itu bukan pekerjaan rendahan, karena tetap saja harus belajar, buktinya ada sekolah khusus untuk tukang masak alias chef. Jadi, nggak perlu malu kan masuk ke dapur untuk memasak atau membuat kue. Dan lagi pendidikan yang tinggi bagi wanita juga tidak akan mubazir jika menjadi ibu rumah tangga karena ia bisa menerapkannya kepada anak-anaknya atau bisa bekerja dari rumah (home office). Tetapi jika memilih bekerja di luar rumah juga tidak ada salahnya selama tidak mengabaikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga😉 .
Jadi, apakah kalian sudah masuk dapur hari ini? Dan apa yang sudah kalian masak?😀

Tidak ada komentar:

Posting Komentar